RSS

Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu (Masih ???)

07 Jan

ImageIbu, dalam bahasa Inggris ‘Mother; merupakan sebuah kata yang sangat indah, bahkan sebuah kata yang diucapkan manusia, yang terbaik keluar dari mulut. Atau ada lagi sebuah quotes,

“You educate a man; you educate a man. You educate a woman; you educate a generation.” ― Brigham Young.

Satu kata sederhana yang begitu memiliki arti yang mendalam, ibu. Coba saja cari lebih banyak lagi, ada berapa puisi, syair, lagu yang menyenandungkan keindahan ‘Ibu’.

Alhamdullilah, sampai hari ini, saya masih memiliki seorang ibu, masih cukup muda – 58 tahun. Ayah saya selalu berkata bahwa ibu atau yang saya sebut sehari-hari mama, adalah wanita yang lebih manis dari anak perempuannya. Rasanya, saya harus mengakui itu! Karena ibu saya memiliki wajah jawa yang dominan, bentuk tubuh yang lebih mungil. Sementara saya, memiliki tulang yang besar seperti pria, dan wajah yang sudah sangat percampuran, dan keras.

Sekarang saya sudah menjadi ibu dari dua anak lelaki. Mungkin ini membuat saya lebih percaya diri, bahwa di rumah saya, saya adalah wanita tercantik dan termanis. Tak ada  ibu yang tinggal bersama keluarga kecil saya.

Beberapa bulan yang lalu, sekitar dua bulan, karib saya baru saja menjadi ibu, melahirkan seorang bayi perempuan mungil yang doyan menyusu (itu setelah umur beberapa hari langsung segera diketahui). Bagi saya, apa yang dijalani oleh sahabat saya, begitu luar biasa! Memiliki paras yang manis, bertubuh sangat ideal, berprofesi sebagai model yang cukup memiliki nama besar di negeri ini, dan ditinggal ibu-nya diusianya yang masih kanak-kanak. Apa yang dia lakukan sekarang pada putrinya, membuat saya bertepuk tangan. Bagaimana tidak? Sahabat saya itu mampu membayar jasa baby sitter, jadi, selain memberikan Air Susu Ibu (ASI), dia memegang;merawat sendiri bayi mungilnya. Dengan segala keterbatasan yang dia miliki. Namun, satu kekuatan yang begitu luar biasa, kasih.

Lain lagi cerita suami saya, ketika kami masih memiliki satu anak lelaki. Ada seorang teman lamanya yang berucap, “Salam untuk Ibu,’ suami saya terheran-heran, kebetulan temannya tersebut, kenal dengan mami-nya, dan juga kenal dengan saya. Dan seperti lazimnya saat wanita telah menikah, dia akan mendapat sebutan baru, Ny. A atau Ibu A, sesuai nama suami. Namun, ketika wanita menyekolahkan anaknya, wanita akan mendapat nama sebutan baru lagi, Mama Kayra (karena si anak bernama itu). Ah banyak kali sebutan ataupun panggilan dari atau perpanjangan ibu.

Jaman dahulu kala, Rasulullah, memiliki dua ibu. Ibu yang melahirkannya, yang membuat rumahnya begitu terang benderang penuh sinar kemuliaan, namun tak memiliki cukup air susu untuk bayinya yang akan membawa kebaikan untuk umat manusia. Kemudian, Beliau mempunyai ibu susu, bukan yang melahirkannya, namun karena memiliki bayi yang sedang dalam menyusui, dan berlebih, sehingga bisa menyusuinya. Saya mengalami hal ini. Saat putra pertama saya dan suami baru berumur hitungan bulan, adik ipar saya yang merupakan adik kandung suami saya pun memiliki bayi. Karena sempat mengalami gangguan / kesusahan dalam mengeluarkan air susunya, sementara bayi itu terus menangis (kebetulan lagi, kami semua tinggal satu rumah, di ibu mertua saya), saya pun mencoba menyusuinya, dan keponakan saya pun kenyang dan tertidur dengan pulasnya.

Suatu hari, ada seorang gadis kecil berusia 12 tahun datang kepada saya, “Tante, saya tidak mau punya ibu tiri.” Ayahnya berpisah dengan ibu si gadis beberapa tahun lalu dan berniat melakukan pernikahan lagi dengan perempuan yang membantunya melewati masa-masa sulit pasca perceraian. Ibu tiri terasa menjadi sebuah momok bagi seorang anak. Kesan kejam dan tidak memiliki welas asih terhadap anak tiri-nya sudah tercam dalam kepala anak-anak. Kisah Bawang Merah & Bawang Putih (kenapa bukan diberi nama bunga ya?); ataupun kisah Cinderella yang sebelum bertemu dengan Pangeran-nya, hidup penuh penderitaan dalam asuhan si ibu tiri. Di sini sebenarnya terjadi percampuradukan konsep, konsep istri dan konsep ibu.

Di zaman kemajuan teknologi sekarang, hufffttt lebih runyam lagi, jenis ibu menjadi beragam. Ada ibu titipan (surrogate mother), jadi ibu kandung pertama yang mungkin tidak memiliki fisik yang kuat untuk melahirkan, memberikan ovum yang dibuahi oleh sperma suaminya dalam sebuah mesin, kemudian dimasukan ke dalam rahim wanita yang secara medis jauh lebih kuat dan mungkin untuk melahirkan, sehingga disebut tadi itu di atas, ibu titipan. Di Indonesia, ibu jenis ini belum terlalu akrab, yang ada misalnya anak saudara yang banyak sementara sepasang suami istri tak memilikinya, kemudian diangkat oleh pasangan mereka salah satu dari anak-anak si ibu (yang secara ekonomi tidak mampu namun berlebihan anak).Atau anak yang lahir dari hasil hubungan pra-nikah, si ibu-nya masih usia sekolah, tidak berani atau tidak mampu melakukan aborsi, tetap melahirkan, tetapi anaknya diberikan kepada orang lain untuk dibesarkan, sementara dia terus melanjutkan sekolahnya. Kalau ada yang sinting (katanya karena dorongan keadaan), melahirkan karena hubungan pra-nikah, atau karena diperkosa, tak ada saudara untuk ‘dititipi’ jabang bayinya, akal pendeknya langsung membunuh bayi yang baru keluar dari rahimnya, dibuang ke selokan (yang sebaiknya dilakukan saat masih berupa cairan).

Lalu bagaimana dengan berbagai kata mutiara, “Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu” atau “Kasih Ibu Sepanjang Masa”, ahh bahkan seorang penyanyi solo yang terbilang bengal dimasa mudanya, namun sukses di karir musiknya – Iwan Fals membuat lirik lagu yang membuat bulu kuduk saya berdiri, “Ribuan kilo jalan yang kau tempuh, lewati rintang, untuk aku anakmu. Ibu ku sayang, masih terus berjalan, walau penuh darah, penuh nanah. Tak mampu ku membalas, Ibu, Ibu…”

Apakah kita masih tetap terlalu percaya kalau ada yang mengatakan, “”Mana ada ibu yang teganya pada anaknya sendiri?”, saat menulis ini pun saya merenung, jenis ibu yang manakah saya, apakah saya sudah berbuat seperti seharusnya yang dilakukan seorang ibu? Atau hampir sama kejamnya dengan Ibu Kota?

Ahhh, atau memang realita sering kali jauh dari norma. (Nastya)

About these ads
 
Leave a comment

Posted by on January 7, 2013 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 709 other followers

%d bloggers like this: